Care for Life

Care for Life
Wajah wajah cerah Pengurus BSMI Mataram

Selasa, 01 Maret 2011

Sehat Jiwa Itu Penting


Menuju Masyarakat Sehat Jiwa Mandiri
Refleksi Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia)

Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Se-Dunia yang jatuh pada tanggal 10 Oktober 2010 dan Hari Kesehatan Jiwa Nasional tanggal 9 November 2010, menunjukkan betapa pentingnya kesehatan jiwa bagi semua orang. Pada tanggal 12 November kita juga memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN ke-46).
Seperti tahun-tahun sebelumnya, RSJ provinsi NTB selalu mengadakan berbagai macam kegiatan dalam rangka menyemarakkan hari kesehatan jiwa nasional dan hari kesehatan nasional Berbagai kegiatan yang diadakan, diantaranya adalah seminar tentang kesehatan jiwa dengan tema menuju masyarakat sehat jiwa mandiri, senam aerobic serta jalan sehat yang melibatkan seluruh pegawai rumah sakit, keluarga dan masyarakat umum dengan tujuan untuk meningkatkan kebersamaan seluruh keluarga besar RSJ serta menyadarkan masyarakat akan pentingnya kesehatan, khususnya kesehatan jiwa.
Seseorang dikatakan sehat jiwa jika mampu menyesuaikan diri dengan diri sendiri, orang lain, masyarakat dan lingkungan. Penyesuaian diri yang baik berdampak pada terwujudnya keharmonisan fungsi jiwa, sanggup menghadapi masalah, merasa bahagia dan mampu melakukan kontrol diri. Banyak sekali penderita sakit jiwa terlambat berobat sebab masyarakat selalu menghubungkan penyebab sakit dengan pengaruh setan, ilmu gelap atau hal-hal mistik/gaib lainnya. Selama masyarakat belum mengetahui tentang sehat dan sakit/gangguan jiwa dan bagaimana mendapatkan pertolongan medis, selama itu juga tindakan pencegahan sakit jiwa penting.
Pasien jiwa berat seringkali disebut gila oleh masyarakat. Orang yang berperilaku aneh, kotor, tidak terurus, galak dan siap menyakiti orang lain adalah gambaran pasien jiwa yang sangat terpatri di benak masyarakat. Seolah-olah pasien gangguan kesehatan jiwa hanyalah pasien yang menderita gila saja.
Kata “GILA” yang mengandung stigma yang kuat tentang kesehatan jiwa juga sulit dilepaskan dari ungkapan masyarakat untuk sesuatu sikap perilaku dan emosional manusia yang tidak normal. Padahal masih banyak gangguan jiwa lain yang juga membutuhkan perhatian khusus seperti depresi, kecemasan, gangguan stres pasca trauma dan gangguan kesehatan jiwa pada anak.
Di NTB, jumlah penderita gangguan jiwa terus meningkat seiring dengan makin beratnya tekanan hidup, baik secara ekonomi maupun sosial, dengan kasus terbanyak terjadi pada usia remaja dewasa/usia produktif.
Mereka umumnya mengalami gangguan psikologis dan perilaku sehingga menurunkan produktivitas mereka dan menghambat interaksi sosial dengan lingkungan sekitar. Seperti yang terjadi di RSJ Provinsi NTB pada tahun 2010 untuk pasien rawat inap. Sebanyak 479 orang dari 978 pasien rawat inap adalah kelompok umur remaja dewasa (umur 25–44 tahun ). Sedangkan dari data kunjungan rawat jalan, pada triwulan I, II dan III tahun 2010 sebanyak 4.325 dari 8.819 berasal dari kelompok usia ini.
Menurut laporan rutin yang dibuat bagian rekam medik RSJ Provinsi NTB, jumlah pasien rawat inap di rumah sakit ini dari tahun ke tahun mengalami peningkatan . Memang, meningkatnya jumlah pasien di RSJ juga akibat penggunaan kartu Asuransi Kesehatan bagi Masyarakat Miskin/Askeskin atau yang sekarang ini disebut Jaminan Kesehatan Masyarakat/Jamkesmas, sehingga mereka bisa berobat gratis (dari 978 pasien, 680 orang berasal dari peserta jamkesmas dan jamkesda, atau sekitar 69,5 %). Sedangkan jumlah penyakit terbanyak adalah Skizofrenia, mencapai 76,5% ( 748 orang dari 978 kasus selama satu tahun) dan diurutan kedua adalah gangguan depresi ( 60 orang dari 978 kasus, atau sekitar 6,1 % ).
Badan Kesehatan Dunia WHO mengatakan dalam laporannya bahwa pada tahun 2020 nanti beban global yang ditanggung negara akibat ketidakproduktifan kerja masyarakatnya disumbangkan paling tinggi dari gangguan jiwa depresi. Hal ini semakin membuat kita harus waspada tentang bahaya gangguan jiwa yang tidak terkenali di masyarakat kita.
Pengenalan gejala gangguan kesehatan jiwa khususnya yang sering terjadi di masyarakat sangat penting untuk terus menerus dilakukan. Hal ini agar masyarakat bisa mengatahui secara dini gangguan kesehatan jiwa yang dialami baik oleh dirinya sendiri, keluarga atau orang-orang di lingkungannya.
Selain daripada itu juga perlu adanya informasi dan upaya dari masing-masing penyedia layanan kesehatan jiwa, khususnya RSJ provinsi NTB untuk terus menginformasikan kepada masyarakat sehingga dapat mengurangi stigma yang ada.
Selama ini kebanyakan masyarakat takut untuk datang ke Rumah Sakit Jiwa ataupun psikiater (dokter spesialis kesehatan jiwa) karena dianggap memalukan, tidak waras atau lebih parah lagi dikatakan mengalami kegilaan. Hal ini tentunya harus diwaspadai karena ternyata stigma ini bukan hanya terjadi di kalangan masyarakat awam bahkan di kalangan profesional di kalangan kesehatan sendiri.
Semoga dengan peringatan Hari Kesehatan Jiwa Se-Dunia dan Hari Kesehatan Nasional, kita sebagai masyarakat dapat terus meningkatkan pengetahuan dan kesadaran kita tentang gangguan kesehatan jiwa, sehingga harapan kita untuk menuju masyarakat yang sehat jiwa secara mandiri dapat terwujud. Jangan lupa untuk dapat segera meminta pertolongan jika memang membutuhkan. Mencegah lebih baik daripada mengobati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar