Care for Life

Care for Life
Wajah wajah cerah Pengurus BSMI Mataram

Minggu, 27 Maret 2011

PERUMPAMAAN AMAL


Perumpamaan Amal

Oleh Fajar Kurnianto

Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya perumpamaan orang yang melakukan amal-amal buruk (dosa) kemudian mengerjakan amal-amal baik (saleh), bagaikan seorang yang memakai perisai perang sempit sehingga membuatnya terimpit. Ketika dia mengerjakan satu amal baik, maka perisai itu terasa agak longgar sedikit. Selanjutnya ketika dia mengerjakan satu amal baik lainnya, maka perisai tersebut terasa semakin longgar, hingga orang itu meninggal dunia." (HR Ahmad dari Uqbah bin Amir).

Kewajiban manusia adalah di dalam kehidupan dunia ini adalah melakukan amal baik dan menjauhi amal buruk. Amal baik akan mengarahkan manusia ke jalan kebaikan di dunia dan di akhirat. Sementara amal buruk akan mengarahkan manusia ke jalan keburukan di dunia dan di akhirat. Allah berfirman, "… dan kerjakanlah amal yang baik (saleh). Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS al-Mu'minun [23] m: 51).

Amal buruk harus dijauhi. Dan, bagi orang yang sudah melakukan amal buruk, ia harus meninggalkannya. Rasulullah memberikan perumpamaan tentang hal ini. Bahwa melakukan amal buruk (dosa) itu seperti orang yang memakai baju besi dalam perang yang makin mengimpit, membelit kuat tubuhnya. Semakin ia sering melakukan amal buruk, maka baju besi itu akan semakin mengimpit tubuhnya. Apabila orang itu melakukan amal baik setelah melakukan amal buruk, maka ia ibarat orang yang mengendurkan impitan baju besinya. Semakin banyak amal baik dilakukan, semakin longgar baju besi itu.

Apa maknanya? Pertama, buah dari amal buruk itu adalah penderitaan, kesulitan, dan kesengsaraan hidup. Baik itu di dunia, lebih-lebih di akhirat. Kedua, buah dari amal baik itu adalah kelapangan, keluasan, kemudahan, dan kebahagiaan hidup. Baik itu di dunia, lebih-lebih di akhirat. Karena itu, kunci untuk melepaskan diri dari penderitaan, kesulitan, ataupun kesengsaraan hidup itu sebenarnya sangat mudah: lakukanlah kebaikan, apa pun bentuknya, kapan pun, di manapun; dan jangan sekali-kali melakukan keburukan.

Manusia memang bukan malaikat, yang seratus persen bisa bersih dan suci dari segala dosa. Inilah, misalnya, yang disebut oleh Rasulullah sebagai fluktuasi iman, "Sesungguhnya iman itu dapat bertambah dan berkurang." (HR Muslim).

Akan tetapi, itu tidak bisa dijadikan sebagai alasan bahwa amal buruk itu hal yang wajar. Karena perintah Allah sangat tegas: kerjakanlah amal yang saleh! Tidak ada satu pun ajaran Islam yang memerintahkan untuk beramal buruk. Islam adalah cahaya yang menyingkap kegelapan, mengangkat manusia dari jurang kegelapan menuju ke alam yang benderang, melepaskan manusia dari kesulitan hidup ke kemudahan hidup. Bahagia dunia dan akhirat. Tinggal manusia yang memilih, ingin hidup dalam kegelapan, terimpit dalam kesulitan, dengan beramal buruk, atau ingin hidup dalam terang cahaya, lepas dari impitan kesulitan hidup, dengan beramal baik. Wallahu a'lam.

Rabu, 23 Maret 2011

Usai Dibekali BAPETEN, BSMI siap berangkat ke Jepang



(Jakarta) Lembaga kemanusiaan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) telah menyiapkan tim relawan untuk membantu korban gempa dan tsunami Jepang. Keberangkatan para relawan BSMI ke Jepang untuk menyalurkan bantuan uang tunai, obat-obatan dan logistik yang saat ini sangat dibutuhkan bagi warga Jepang. Sebelum keberangkatan ke Jepang, relawan akan dibekali pengetahuan tentang bahaya radiasi nuklir akibat ledakan imstalasi PLTN di Fukushima.

Hal ini disampaikan oleh ketua umum BSMI Muhamad Djazuli Ambari, SKM, M.Si saat pembekalan relawan BSMI untuk mengahadapi ancaman radiasi nuklir di kantor pusat BSMI Jl. Dewi Sartika No. 19, Jumat (18/3). Pembekalan yang disampaikan oleh Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) Dr. Ir. As Natio Lasman, bertujuan agar para relawan yang akan bekerja di daerah yang terkena radiasi nuklir mengetahui cara pencegahan dan dampak yang ditimbulkan jika terkena radiasi.

Tim relawan yang akan diberangkatkan ke Jepang berjumlah 12 orang yang terdiri dari dokter spesialis, tim ahli forensik, dan tim ahli tanggap bencana. Meski pemerintah Jepang memperketat masuknya relawan internasional, BSMI tetap berharap relawannya dapat memasuki daerah bencana untuk melaksanakan tugas kemanusiaan.

Tim relawan BSMI yang ke Jepang yaitu Dr. Basuki Supartono, SpOT, FICS, MARS (spesialis orthopaedi), Dr. Prita Kusumaningsih, SpOG (spesialis obsgyn), Dr. Arief Basuki, SpAn (spesialis anastesi), Dr. Agoes Kooshartoro, SpPD (spesialis penyakit dalam), Dr. Sahudi, SpB (spesialis bedah), Dr. Iwan Aflanie Syaidul Alkaf, SpF (ahli forensik), Amin Kuat Santoso (tim tanggap bencana), Muhamad Djazuli Ambari, SKM, M.Si (tim tanggap bencana), Muhammad Rudi (tim tanggap bencana), Heru Susetyo, SH, LL.M (tim tanggap bencana), Syekh Abdul Qodir, S.Sos (tim tanggap bencana), Pardian Sulaiman, S.Sos (tim tanggap bencana).

Hingga saat ini, menurut salah satu sumber resmi di Jepang menyatakan bahwa jumlah korban tewas 5.321 jiwa dan korban yang hilang 9.329 jiwa. Sehingga total korban setelah gempa dahsyat dan tsunami yang meratakan pantai timur laut Jepang mencapai 14.650 jiwa. Selain itu ada 2.383 orang yang luka-luka dan diperkirakan jumlah korban akan terus bertambah. Sedangkan sekitar dua ratus orang di Jepang dipastikan terkena radiasi nuklir.

Sementara itu pada pembekalan relawan di kantor pusat BSMI, As Natio Lasman mengatakan, seseorang dapat terpapar zat radioaktif pada bagian luar tubuh maupun secara internal akibat zat radioaktif masuk saat bernapas, makan, minum, ataupun lewat luka. Masyarakat umum termasuk para relawan, sesuai peraturan internasional, memang tidak boleh terpapar radiasi melebihi rata-rata 1 mSv (milishievert) per tahun, sementara itu, pekerja di kawasan radiasi ditetapkan tidak boleh menerima lebih dari 50mSv per tahun. As Natio Lasman juga menghimbau para relawan yang akan ke Jepang untuk selalu barhati-hati dan mengikuti peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah Jepang. [bsmi]

Minggu, 20 Maret 2011

PROFIL BSMI KOTA MATARAM




Latar Belakang
Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat peningkatan masalah kemanusiaan di lndonesia, baik yang diakibatkan oleh bencana alam, konflik antar etnis ataupun sebab-sebab lainnya.Belum lagi masalah kesehatan yang semakin terabaikan karena ketidakmampuan masyarakat untuk membeli produk kesehatan yang ada. Ketidakmampuan tersebut merupakan akibat langsung dari turunnya kualitas ekonomi yang dialami masyarakat saat ini. Semua hal tersebut akan membuat masyarakat semakin tidak peduli dengan standar kesehatan selama ini. Pada saat yang sama, di masyarakat tumbuh banyak lembaga-lembaga sosial kemanusiaan yang mencoba mengatasi permasalahan di atas. Hal ini ditandai dengan munculnya lembaga-lembaga kemanusiaan atau lembaga donatur yang bersedia membiayai kegiatan pelayanan kemanusiaan yang telah ada. Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) lahir sebagai realisasi dalam proses secara sungguh-sungguh dari para pendiri. Para pendiri BSMI selama ini telah seringkali melakukan pertolongan-pertolongan kemanusiaan. Untuk lebih meningkatkan lagi keterpaduan langkah dan keberhasilan program, kita memerlukan lembaga kemanusiaan yang kelahirannya tidak terkooptasi oleh kepentingan individu dan lembaga. BSMI lahir sebagai wujud dari usaha independen dan merdeka yang mengacu kepada prinsip kemanusiaan yang universal dalam ajaran lslam.
Pada hari Sabtu 08 Juni 2002 bertepatan dengan tanggal 27 Rabiul Awwal 1423 H telah lahir lembaga kemanuisaan dalam bidang kesehatan dan sosial yang bernama Bulan Sabit Merah Indonesia yang dideklarasikan di Masjid Al-Azhar Jakarta.
Lambang yang dipergunakan adalah berbentuk Bulan Sabit yang berwarna merah dengan latar belakang warna putih serta 3 tulisan berbahasa Indonesia, Internasional dan Arab, dimaksudkan supaya dikenal oleh rakyat Indonesia, Negara Internasional serta Negara Islam Timur Tengah.

Susunan Pengurus BSMI Cabang Mataram
PENASEHAT
TGH.Safwan Hakim
Dr.Arief Zuhan,SpB
Ust.Satriawan,Lc,MA
DR.Muhaimin,M.Hum
Ketua
Dr.Asep Nasrullah

Sekretaris
Arif Fahmi,S.Si


Ketua Departemen Pelayanan Masyarakat
Dr.Hj.Qomarul Islamiyati


Ketua Departemen Klinik
Dr.Rinni Sintani


Ketua Departemen BSMR
Dr.Rudi Satriawan


Ketua departemen Fund Rising dan Media
Arif Rahman,S.Ked


Ketua Departemen Pengembangan SDM
Ali Mustofa,S.Kep,Ners

Selasa, 15 Maret 2011

Jangan berhenti. Bukan karena berhenti akan menghambat laju kemajuan anda. Namun sesungguhnya alam mengajarkan bahwa anda tak akan pernah bisa berhenti. Meski anda berdiam diri di situ, bumi tetap mengajak anda mengelilingi matahari. Maka, bergeraklah, beramallah, berkaryalah. Berkarya bukan sekedar untuk meraih sesuatu. Berkarya memberi kebahagiaan diri.

Air yang tak bergerak lebih cepat busuk. Kunci yang tak pernah dibuka lebih mudah serat. Mesin yang tak dinyalakan lebih gampang berkarat. Hanya perkakas yang tak digunakanlah yang disimpan dalam laci berdebu. Jangan berhenti berkarya, atau anda segera menjadi tua dan tak berguna.

Selasa, 01 Maret 2011

Sehat Jiwa Itu Penting


Menuju Masyarakat Sehat Jiwa Mandiri
Refleksi Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia)

Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Se-Dunia yang jatuh pada tanggal 10 Oktober 2010 dan Hari Kesehatan Jiwa Nasional tanggal 9 November 2010, menunjukkan betapa pentingnya kesehatan jiwa bagi semua orang. Pada tanggal 12 November kita juga memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN ke-46).
Seperti tahun-tahun sebelumnya, RSJ provinsi NTB selalu mengadakan berbagai macam kegiatan dalam rangka menyemarakkan hari kesehatan jiwa nasional dan hari kesehatan nasional Berbagai kegiatan yang diadakan, diantaranya adalah seminar tentang kesehatan jiwa dengan tema menuju masyarakat sehat jiwa mandiri, senam aerobic serta jalan sehat yang melibatkan seluruh pegawai rumah sakit, keluarga dan masyarakat umum dengan tujuan untuk meningkatkan kebersamaan seluruh keluarga besar RSJ serta menyadarkan masyarakat akan pentingnya kesehatan, khususnya kesehatan jiwa.
Seseorang dikatakan sehat jiwa jika mampu menyesuaikan diri dengan diri sendiri, orang lain, masyarakat dan lingkungan. Penyesuaian diri yang baik berdampak pada terwujudnya keharmonisan fungsi jiwa, sanggup menghadapi masalah, merasa bahagia dan mampu melakukan kontrol diri. Banyak sekali penderita sakit jiwa terlambat berobat sebab masyarakat selalu menghubungkan penyebab sakit dengan pengaruh setan, ilmu gelap atau hal-hal mistik/gaib lainnya. Selama masyarakat belum mengetahui tentang sehat dan sakit/gangguan jiwa dan bagaimana mendapatkan pertolongan medis, selama itu juga tindakan pencegahan sakit jiwa penting.
Pasien jiwa berat seringkali disebut gila oleh masyarakat. Orang yang berperilaku aneh, kotor, tidak terurus, galak dan siap menyakiti orang lain adalah gambaran pasien jiwa yang sangat terpatri di benak masyarakat. Seolah-olah pasien gangguan kesehatan jiwa hanyalah pasien yang menderita gila saja.
Kata “GILA” yang mengandung stigma yang kuat tentang kesehatan jiwa juga sulit dilepaskan dari ungkapan masyarakat untuk sesuatu sikap perilaku dan emosional manusia yang tidak normal. Padahal masih banyak gangguan jiwa lain yang juga membutuhkan perhatian khusus seperti depresi, kecemasan, gangguan stres pasca trauma dan gangguan kesehatan jiwa pada anak.
Di NTB, jumlah penderita gangguan jiwa terus meningkat seiring dengan makin beratnya tekanan hidup, baik secara ekonomi maupun sosial, dengan kasus terbanyak terjadi pada usia remaja dewasa/usia produktif.
Mereka umumnya mengalami gangguan psikologis dan perilaku sehingga menurunkan produktivitas mereka dan menghambat interaksi sosial dengan lingkungan sekitar. Seperti yang terjadi di RSJ Provinsi NTB pada tahun 2010 untuk pasien rawat inap. Sebanyak 479 orang dari 978 pasien rawat inap adalah kelompok umur remaja dewasa (umur 25–44 tahun ). Sedangkan dari data kunjungan rawat jalan, pada triwulan I, II dan III tahun 2010 sebanyak 4.325 dari 8.819 berasal dari kelompok usia ini.
Menurut laporan rutin yang dibuat bagian rekam medik RSJ Provinsi NTB, jumlah pasien rawat inap di rumah sakit ini dari tahun ke tahun mengalami peningkatan . Memang, meningkatnya jumlah pasien di RSJ juga akibat penggunaan kartu Asuransi Kesehatan bagi Masyarakat Miskin/Askeskin atau yang sekarang ini disebut Jaminan Kesehatan Masyarakat/Jamkesmas, sehingga mereka bisa berobat gratis (dari 978 pasien, 680 orang berasal dari peserta jamkesmas dan jamkesda, atau sekitar 69,5 %). Sedangkan jumlah penyakit terbanyak adalah Skizofrenia, mencapai 76,5% ( 748 orang dari 978 kasus selama satu tahun) dan diurutan kedua adalah gangguan depresi ( 60 orang dari 978 kasus, atau sekitar 6,1 % ).
Badan Kesehatan Dunia WHO mengatakan dalam laporannya bahwa pada tahun 2020 nanti beban global yang ditanggung negara akibat ketidakproduktifan kerja masyarakatnya disumbangkan paling tinggi dari gangguan jiwa depresi. Hal ini semakin membuat kita harus waspada tentang bahaya gangguan jiwa yang tidak terkenali di masyarakat kita.
Pengenalan gejala gangguan kesehatan jiwa khususnya yang sering terjadi di masyarakat sangat penting untuk terus menerus dilakukan. Hal ini agar masyarakat bisa mengatahui secara dini gangguan kesehatan jiwa yang dialami baik oleh dirinya sendiri, keluarga atau orang-orang di lingkungannya.
Selain daripada itu juga perlu adanya informasi dan upaya dari masing-masing penyedia layanan kesehatan jiwa, khususnya RSJ provinsi NTB untuk terus menginformasikan kepada masyarakat sehingga dapat mengurangi stigma yang ada.
Selama ini kebanyakan masyarakat takut untuk datang ke Rumah Sakit Jiwa ataupun psikiater (dokter spesialis kesehatan jiwa) karena dianggap memalukan, tidak waras atau lebih parah lagi dikatakan mengalami kegilaan. Hal ini tentunya harus diwaspadai karena ternyata stigma ini bukan hanya terjadi di kalangan masyarakat awam bahkan di kalangan profesional di kalangan kesehatan sendiri.
Semoga dengan peringatan Hari Kesehatan Jiwa Se-Dunia dan Hari Kesehatan Nasional, kita sebagai masyarakat dapat terus meningkatkan pengetahuan dan kesadaran kita tentang gangguan kesehatan jiwa, sehingga harapan kita untuk menuju masyarakat yang sehat jiwa secara mandiri dapat terwujud. Jangan lupa untuk dapat segera meminta pertolongan jika memang membutuhkan. Mencegah lebih baik daripada mengobati.

Minggu, 20 Februari 2011

CINTAKU PADAMU...YA RASULULLAH....



Apa yang Tuan pikirkan tentang seorang laki-laki berperangai amat mulia, yang lahir dan dibesarkan di celah-celah kematian demi kematian orang-orang yang amat mengasihinya? Lahir dari rahim sejarah, ketika tak ada seorangpun mampu mengguratkan kepribadian selain kepribadiannya sendiri. Ia produk ta'dib Rabbani (didikan Tuhan) yang menantang mentari dalam panasnya dan menggetarkan jutaan bibir dengan sebutan namanya, saat muaddzin mengumandangkan adzan.

Di rumahnya tak dijumpai perabot mahal. Ia makan di lantai seperti budak, padahal raja-raja dunia iri terhadap kekokohan struktrur masyarakat dan kesetiaan pengikutnya. Tak seorang pembantunya pun mengeluh pernah dipukul atau dikejutkan oleh pukulannya terhadap benda-benda di rumah. Dalam kesibukannya ia masih bertandang ke rumah puteri dan menantu tercintanya, Fathimah Az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib.

Fathimah merasakan kasih sayangnya tanpa membuatnya menjadi manja dan hilang kemandirian. Saat bani Makhzum memintanya membatalkan eksekusi atas jenayah seorang perempuan bangsawan, ia menegaskan: "Sesungguhnya yang membuat binasa orang-orang sebelum kamu ialah, apabila seorang bangsawan mencuri kamu biarkan dia dan apabila yang mencuri itu rakyat jelata mereka tegakkan hukum atas-nya. Demi Allah, seandainya Fathimah anak Muhammad mencuri, maka Muhammad tetap akan memotong tangannya."

Hari-harinya penuh kerja dan intaian bahaya. Tapi tak menghalanginya untuk -- lebih dari satu dua kali -- berlomba jalan dengan Humaira, sebutan kesayangan yang ia berikan untuk Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq. Lambang kecintaan, paduan kecerdasan dan pesona diri dijalin dengan hormat dan kasih kepada Ash-Shiddiq, sesuai dengan namanya "si Benar". Suatu kewajaran yang menakjubkan ketika dalam sibuknya ia masih menyempatkan memerah susu domba atau menambal pakaian yang koyak. Setiap kali para shahabat atau keluarganya memanggil ia menjawab: "Labbaik". Dialah yang terbaik dengan prestasi besar di luar rumah, namun tetap prima dalam status dan kualitasnya sebagai "orang rumah".

Di bawah pimpinannya, laki-laki menemukan jati dirinya sebagai laki-laki dan pada saat yang sama perempuan mendapatkan kedudukan amat mulia."Sebaik-baik kamu ialah yang terbaik terhadap keluarganya dan akulah orang yang terbaik diantara kamu terhadap keluargaku." "Tak akan memuliakan perempuan kecuali seorang mulia dan tak akan menghina perempuan kecuali seorang hina," demikian pesannya.

Di sela 27 kali pertempuran yang digelutinya langsung (ghazwah) atau di panglimai shahabatnya (sariyah) sebanyak 35 kali, ia masih sempat mengajar Al-Qur'an, sunnah, hukum, peradilan, kepemimpinan, menerima delegasi asing, mendidik kerumahtanggaan bahkan hubungan yang paling khusus dalam keluarga tanpa kehilangan adab dan wibawa. Padahal, masa antara dua pertempuran itu tak lebih dari 1,7 bulan.

Setiap kisah yang dicatat dalam hari-harinya selalu bernilai sejarah. Suatu hari datanglah ke masjid seorang Arab gunung yang belum mengerti adab di masjid. Tiba-tiba ia kencing di lantai masjid yang berbahan pasir. Para shahabat sangat murka dan hampir saja memukulnya. Sabdanya kepada mereka: "Jangan. Biarkan ia menyelesaikan hajatnya." Sang Badui terkagum. Ia mengangkat tangannya, "Ya Allah, kasihilah aku dan Muhammad. Jangan kasihi seorangpun bersama kami." Dengan senyum ditegurnya Badui tadi agar jangan mempersempit rahmat Allah.

Ia kerap bercengkerama dengan para shahabatnya, bergaul dekat, bermain dengan anak-anak, bahkan memangku balita mereka di pangkuannya. Ia terima undangan mereka; yang merdeka, budak laki-laki atau budak perempuan, serta kamu miskin. Ia jenguk rakyat yang sakit di ujung Madinah. Ia terima permohonan ma'af orang.

Ia selalu lebih dulu memulai salam dan menjabat tangan siapa yang menjumpainya dan tak pernah menarik tangan itu sebelum shahabat tersebut yang menariknya. Tak pernah menjulurkan kaki di tengah shahabatnya hingga menyempitkan ruang bagi mereka. Ia muliakan siapa yang datang, kadang dengan membentangkan bajunya. Bahkan ia berikan alas duduknya dan dengan sungguh-sungguh. Ia panggil mereka dengan nama yang paling mereka sukai. Ia beri mereka kuniyah (sebutan bapak atau ibu si Fulan). Tak pernah ia memotong pembicaraan orang, kecuali sudah berlebihan. Apabila seseorang mendekatinya saat ia sholat, ia cepat selesaikan sholatnya dan segera bertanya apa yang diinginkan orang itu.

Pada suatu hari dalam perkemahan tempur ia berkata: "Seandainya ada seorang shalih mau mengawalku malam ini." Dengan kesadaran dan cinta, beberapa shahabat mengawal kemahnya. Di tengah malam terdengar suara gaduh yang mencurigakan. Para shahabat bergegas ke arah sumber suara. Ternyata Ia telah ada di sana mendahului mereka, tagak di atas kuda tanpa pelana. "Tenang, hanya angin gurun," hiburnya. Nyatalah bahwa keinginan ada pengawal itu bukan karena ketakutan atau pemanjaan diri, tetapi pendidikan disiplin dan loyalitas.

Ummul Mukminin Aisyah Ra. Berkata : "Rasulullah SAW wafat tanpa meninggalkan makanan apapun yang dimakan makhluk hidup, selain setengah ikat gandum di penyimpananku. Saat ruhnya dijemput, baju besinya masih digadaikan kepada seorang Yahudi untuk harga 30 gantang gandum."

Sungguh ia berangkat haji dengan kendaraan yang sangat seerhana dan pakaian tak lebih dari 4 dirham, seraya berkata,"Ya Allah, jadikanlah ini haji yang tak mengandung riya dan sum'ah." Pada kemenangan besar saat Makkah ditaklukkan, dengan sejumlah besar pasukan muslimin, ia menundukkan kepala, nyaris menyentuh punggung untanya sambil selalu mengulang-ulang tasbih, tahmid dan istighfar. Ia tidak mabuk kemenangan.

Betapapun sulitnya mencari batas bentangan samudera kemuliaan ini, namun beberapa kalimat ini membuat kita pantas menyesal tidak mencintainya atau tak menggerakkan bibir mengucapkan shalawat atasnya: "Semua nabi mendapatkan hak untuk mengangkat do'a yang takkan ditolak dan aku menyimpannya untuk ummatku kelak di padang Mahsyar nanti."

Ketika masyarakat Thaif menolak dan menghinakannya, malaikat penjaga bukit menawarkan untuk menghimpit mereka dengan bukit. Ia menolak, "Kalau tidak mereka, aku berharap keturunan dari sulbi mereka kelak akan menerima da'wah ini, mengabdi kepada Allah saja dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun."

Mungkin dua kata kunci ini menjadi gambaran kebesaran juwanya. Pertama, Allah, Sumber kekuatan yang Maha dahsyat, kepada-Nya ia begitu refleks menumpahkan semua keluhannya. Ini membuatnya amat tabah menerima segala resiko perjuangan; kerabat yang menjauh, shahabat yang membenci, dan khalayak yang mengusirnya dari negeri tercinta. Kedua, Ummati, hamparan akal, nafsu dan perilaku yang menantang untuk dibongkar, dipasang, diperbaiki, ditingkatkan dan diukirnya.

Ya, Ummati, tak cukupkah semua keutamaan ini menggetarkan hatimu dengan cinta, menggerakkan tubuhmu dengan sunnah dan uswah serta mulutmu dengan ucapan shalawat? Allah tidak mencukupkan pernyataan-Nya bahwa Ia dan para malaikat bershalawat atasnya (QS 33:56 ), justru Ia nyatakan dengan begitu "vulgar" perintah tersebut, "Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah atasnya dan bersalamlah dengan sebenar-benar salam."

Allahumma shalli 'alaihi wa'ala aalih !
(KH.Rahmat Abdullah)

Selasa, 15 Februari 2011

Bulan Sabit Merah Sambut Maulid





Rabi'ul Awal, adalah hari-hari yang penuh karya dan kepedulian bagi para aktivis kemanusiaan Bulan Sabit Merah Indonesia Kota Mataram. Selama sebulan penuh, terutama di setiap akhir pekan dan hari libur nasional, para pejuang kemanusiaan ini senantiasa mengisi hari-harinya dengan terus menebar cinta bagi sesama, khususnya bagi mereka yang dhuafa. Bersama para pemburu ridho Sang Maha Kasih, bahu membahu tiada lelah melaksanakan bakti sosial dan khitanan massal bagi masyarakat di seluruh pelosok pulau Lombok, tiada henti hingga senyum-senyum cerah mengembang sempurna diantara celah bibir mungil anak-anak bangsa yang selama ini jarang terperhatikan kesehatannya. pun demikian dengan inaq dan amaq mereka yang seringkali harus berfikir seribu kali untuk sekedar berkunjung ke dokter disaat tubuh melemah, entah karena angin atau karena kurang asupan gizi.
Di Bulan rabi'ul Awal, yang biasanya dikenal dengan bulan Maulid, sebagian besar masyarakat Sasambo ini begitu semangat dan semarak berbagi kebahagiaan merayakan kelahiran Sang Rasul akhir Zaman, sehingga hal inilah yang menjadikan mereka lebih menyukai mengkhitankan putra-putra kesayangan mereka di bulan ini, dengan alasan agar dapat melaksanakan acara tasyakuran (walimatul khitan) sekaligus merayakan maulid Nabi. Mungkin inilah salah satu alasan bayaknya proposal permintaan khitanan massal dan bakti sosial yang masuk sekretariat BSMI Kota Mataram sehingga di bulan ini, jadwal khitanan massal bagi masyarakat Lombok sangat padat. Setelah kemaren ahad seharian Tim BSMI melaksanakan ekspedisi peduli kesehatan di Bayan-KLU, Selasa pagi tadi melaksanakan khitanan massal sebanyak 70 peserta di Panti Asuhan yatim iatu Al-Hidayah-Tempit-Ampenan, dilanjutkan dengan khitanan massal di desa Seganteng-cakranegara sebanyak 15 peserta. dan jika Allah menghendaki,ahad depan (20 Feb) tim BSMI akan kembali melakukan ekspedisi khitanan di kecamatan gangga-KLU dilanjut untuk pekan keempat di Lombok tengah dan parampuan. Akankah target 250 peserta khitan selama sebulan ini dapat tercapai...kita tunggu....Akhirnya Segenap Pengurus dan Relawan BSMI Kota Mataram mengucapkan Selamat Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, semoga kita semua semakin mencintai Rasulullah dengan senantiasa berusaha melaksanakan segala sunah-sunah beliau...